Monday, October 02, 2006

Wanted, Dead or A Life

Aura datang ke rumahku karena ia butuh teman pendengar yang baik. Aku malah berkicau tak tertahan sepanjang malam. Akibatnya, aku kembali menyoreng-moreng halaman dengan kejujuran. Tidak sebenar cerita malam.

Ini kisahku Ra,...

Kemarin malam, aku pulang saat tidak perlu lagi pamit. Saat sepanjang kubikal riset telah kosong ditinggal penghuninya. Saat orang-orang-terakhir menuduhku gila macro. Dan, saat aku cukup puas online di BBC dan beberapa situs Excel dan Access.

Untuk menuju kosan, aku menggunakan kopaja P-20 arah kuningan. Untuk itu aku harus berjalan sepanjang tandean sampai simpang Mampang.
Aku memang tidak pernah memilih satu dari banyak ojek yang nangkring di depan kantor. Karena itu juga, abang ojek terbiasa, sehingga tidak pernah lagi menawarkan jasanya ketika melihat aku yang keluar gerbang.

Tak lama perjalanan, P-20 berhenti tepat di depan Sentra Mulia. Saatnya aku turun.
Aku kembali melewati pangkalan ojek yang lagi-lagi telah bosan menawarkan jasanya padaku. Tapi.. tiba-tiba...
"Pssssttttttt... pssstttt... "
Sial, ngapain tuh abang ojek. Belum kenal gue apa??!!

"Heyy!"
Arah jam 9, aku melihat sesosok tinggi besar berusaha mencegat jalan. Hah?! Deni?!

Satu setengah tahun lalu, aku kenal makhluk-paling-besar-seangkatan ini di lantai 6. Waktu itu kami masih sama-sama berbaju hitam tanpa bordiran ID perusahaan. Ia punya kubikal di sayap kanan, sedangkan aku di sayap kiri. Tentu saja, karena kami beda divisi.

"Hey.. Ciee.. seragam baru nih?", sapa lelaki bersuara gak sebanding dengan penampakannya itu. Ia mencuil lengan baju seragam kantorku yang kata orang-orang sih.. keren. Alah!
"Yah, uda lama lagi Den!"
"Yaa.. gue kan uda 5 bulan-an lebih kali.. keluar. Gimana di sana?"
"Aman! Kalo lu...?", aku melirik pangkalan ojek. Si Deni menatap kesal dikira banting setir. Hehehehe...

Lalu Deni bercerita sukses karirnya.
"Gue di sini sekarang -ia menunjuk gedung di sebelah kiri kami-, MT di bagian audit. Baru nih, gue di sini... bulan lalu gue masih di gedung pusat, Mega Kuningan. Bulan depan gue ke Malaysia nih... training. Lu gimana sekarang?.. Masih.. mmm..masih segitu-gitu juga ya gajinya?"
Sial, naga-naga pertanyaan macam apa itu?
Seperti biasa, aku pasti membela mati-matian kantor ku -kalo yang nyela orang luar-.
"Gue pindah ke lantai 20, Den. Soalnya anak TV laen.., itu loh.. YANG KEBELI ama perusahaan, ikut gabung di Tandean"
Entah lah, Deni menangkap atau tidak huruf kapital di atas. Selanjutnya kami membahas hal lain. Walau masih tentang salah dua televisi swasta nasional, tapi setidaknya bukan gaji. =P

Kami berpisah di Genteng Ijo. Aku harus ke kanan, sedangkan Deni melanjutkan jalur lurus Pedurenan menuju Sudirman. Tidak ada yang spesial bertemu makhluk itu, toh aku juga tidak akrab dengannya.

Keesokan hari. Tepatnya; tadi siang saat aku dan teman-teman kantor ngobrol di jam istirahat. Aku menceritakan pertemuanku dengan Deni. Ajaibnya, selesai aku ucapkan satu kalimat saja, semua temanku menganga tak percaya.
Hey Dudes..What’s up???.. Apa hebatnya ketemu Deni???

"Sist,... si Deni itu kan dicariin sama anak-anak..", salah seorang teman berhasil membuatku tambah terheran-heran.
"Deni gak pamitan cabut dari sini, Sist! Dia menghilang begitu saja. Dia punya track record di perusahaan -gak cuma perusahaan ini saja, red-, kalau dia itu punya hutang dimana-mana! Lu gak tau?", penjelasan teman yang satu ini membuat bulu kudukku merinding. Aku seperti baru saja ditipu hantu.

Separah itu kah?
Gue ketemu sama seorang bajingan dan ketawa-ketiwi with him??
Untung gue gak ikut diperas, tapi gue sempat kemakan omong-omongan ‘tinggi’-nya.
Sial, gue bener-bener gak rela, Ra!!
Gak rela gue!

Ps: Deni adalah nama samaran, nama sebenarnya Dono. Huahahahahha..

Read more!

Monday, September 25, 2006

Gedung Kantor Bikin Ribet

Semua gara-gara feng-shui dan kepelitan perusahaan, Wina jadi menderita di gedung ini. Padahal baru 2 bulan saja ia bekerja di perusahaan pertambangan tidak jelas, sama tidak jelas dengan jobdesk-nya. Maklum, masih karyawan kontrak. Plus ditimpa beban mental mempertahankan kehebatan almamater. Berhubung gosip kurang ajar mendelegasi mayoritas alumni dari tempat-kuliahan-Wina, yang katanya akan berdedikasi tinggi.

Yaks! Mari kita kembali ke pembahasan gedung kantor si Wina.
Gedung kantor itu berbentuk pesawat ulang-alik jika dilihat dari langit.
Untuk membuktikan kebenaran tulisan saya di atas, jangan jauh-jauh ke bulan atau berani bayar mahal nyewa heli. Cukup meminta blue print gedung dari arsitek kalau masih mau susah, atau lihat saja denah gedung yang biasa tertempel rapi di tiap lantai dekat instruksi-jalan-darurat.

Layaknya komponen ulang alik, pengaturan posisi masing-masing divisi pun sesuai analogi pesawat. Contoh: Wina sebagai mine planning yang berarti mengatur jalannya project harus rela pura-pura jadi co-pilot. Teman-teman finance, sales and marketing, dan PR sebagai penggerak bisnis berada di motor pesawat.
Sayangnya, sedikit sekali tersedia kamar eksekutif di pesawat-pesawatan ini. Akibatnya Wina dan staff terpaksa berjejal-jejal tidak karuan.

Trus...furniture gedung bisa dibilang oke laaahh.. Katanya sih import dari negara asal perusahaan, Cina. Pengaruh kata import sebenarnya bikin Wina kesal. Gimana nggak, manajemen gedung jadi memuja furniture dan antek-anteknya. Peraturan dilarang minum-makan di meja pun berlaku demi maintenance barang-barang sewaan tersebut. Apa jadinya jika keberadaan pantry cuma 2 x 2 untuk menampung puluhan orang, dan jauh lagi dari kubikal Wina?

Menuju pantry unyil, Wina harus melalui; 2 toliet, 1 musholla, 2 ruang meeting, resepsionis, 2 ruang meeting lagi, dan beberapa kubikal. Aaarrgghh...
Sialnya, sering kejadian Wina terpaksa ngantri sampai desperado, berhubung anak-anak dari divisi lain lagi bikin acara potong kue ulang tahun di pantry kecil itu. Gak ada deh yang bisa masuk. Buat mereka bernapas saja sudah susah.
Kesialan kedua ada saat Wina histeris melihat pantry bisa mendadak sepi. Hampir saja ia memeluk dispenser dengan haru. Tapi Wina langsung murung ketika menyadari air lagi habis. Hhhh... Serasa ingin terjun ke sink.

Lama-lama Wina jadi malas minum. Kalau pun minum, ia harus berdiri untuk menyelesaikan tegukan di ruangan sempit itu. Mau ikut-ikutan trend gaya wanita muda mandiri; minum YC-1000. Sama saja, ia harus meneguk habis sebotol sekaligus, kalau mau hemat jalan.
Benar-benar kehidupan tidak sehat.

Benar saja, malam ini Wina sedang berusaha memasukkan obat ke duburnya. Obat berbentuk peluru lilin ini ia dapatkan seusai berobat ke klinik perusahaan, tadi siang. Wina percaya keluhan susah buang air besar yang disertai bercak darah di fases-nya, akan segera pulih setelah 3 kali penggunaan obat.
Artinya 2 malam lagi penderitaan. Menyodomi diri sendiri dengan obat coklat yang telah seharian disimpan di lemari es, karena sifatnya yang gampang meleleh. Benar-benar pekerjaan menjijikkan sebelum tidur.
Banyak minum susah... Kurang minum susah...
Huaaaaaaaaaaa...

Nah, kalau sudah kejadian begini. Yang paling enak disalahin siapa coba?

+Wina, karyawan kontrak yang tidak takut dipecat: "Bukan gue Dok, yang males minum! Sistem tuh..."
-Dokter, karyawan kontrak yang takut dipecat:".. Yaa.. sebentar lagi bulan puasa kan Dek, sistem pencernaan Adek bisa membaik di bulan suci ini. Allah maha besar"
+Wina, frustrasi: "?????.. Bukan sistem itu maksud gue!!!"

Read more!

Friday, September 08, 2006

Boss-ku dan Boss-nya

"Proyek akan dianalisa lebih lanjut di Jakarta office hari ini..?", Daryl membaca sebagian baris print-an e-mail atas nama Pak Diar. Kemudian, Daryl menaikkan sebelah alisnya tanda pura-pura tak mengerti, sebenarnya... ia takut jadi sok tau.
Tapi orang yang sudah cukup lama wara-wiri di dunia per-LSM-an itu malah tertawa membahana. Sambil menyisir janggut, ia berkata; "Sengaja saya pilih kamu, anak muda... Oya, saya PIC-nya loh.. Dan jangan lupa memo-nya okey"
Jakarta?! Yay! Thanks Boss!


So, di sini lah Daryl malam ini. Bertekad bekerja dengan penuh semangat.
Apalagi Pak Diar sudah membangga-banggakan seorang Daryl -yang lulusan teknik terkenal di Bandung- di depan koleganya tadi siang. Dengan embel-embel jagoan urusan sanitasi pula! Buset, gue kan cuma belajar Hidrologi satu semester doang.

Btw, ini malam atau bukan sih??? Sial ni Jakarta, rame mulu!

"Kebetulan kantor kita lagi pindahan nih, anak muda"
Huaaaa.. Jantung Daryl serasa -sedikiiiit lagi- copot. Ia hampir menuduh Pak Diar juga jago membaca pikiran.
"Eeeh.. Pak, saya baru saja mau menghampiri kerumunan itu. Mau tau.. hehehe"
Daryl menunjuk sudut ruangan. Di sana ramai karyawan/ti mengerubungi sekotak kardus besar.
"Oke, sosialisasi sana!", Pak Diar menepuk pundak Daryl dan meninggalkannya. Daryl pun mulai mendekati seorang karyawati yang terlihat tidak terlalu sibuk mengacak-acak kardus.

"Ada apa ya Mba’?"
"e? .. -sang karyawati memandang Daryl agak lama, sebelum melanjutkan- ..Ooo.. itu.. si Babe lagi bagi-bagi barang"
Daryl masih terlihat bingung dan lagi menyusun simulasi-simulasi yang mungkin di saat ia jadi seorang Kadiv..dalam situasi pindahan! Sambil tetap mengamati keadaan, pastinya.

Lagi-lagi gesture Daryl mudah ditebak. Si Mba’ Administrasi jadi tidak sabar untuk meracuni pemuda baik-baik itu.
"Begini ya deeek.. Minggu depan kan kontrak di gedung Wisma Wasmi ini selesai. Nah.. Untungnya tepat saat gedung baru kita yang di seberang itu selesai. Pindahan dooong... Nah, si Babe ini kan punya ruangan segede gaban, isi-nya juga macem-macem. Sekalian pindahan, sekalian pembersihan toh, sekalian lah ia bagi-bagikan tumpukan barangnya ke kita...
Mmm.. koreksi! Barang yang ia bagi sebenarnya lebih layak dibuang ke sini"
Mbak Admin menunjuk tong sampah berisikan kalkulator-cabe, kalender digital, dan termos.
"Sebagian... rusak?", Daryl menelan ludah. Ia tidak percaya dan berharap Mbak Admin menggelengkan kepala, but she’s nodding her head.
Gila!

Walaupun begitu, kardus jelek itu masih saja dikerumuni banyak orang. Si Mbak Admin juga kadang tertawa melihat hasil rebutan teman-temannya yang sebenarnya... useless.
"Mereka cari fun. That’s fun, Daryl... Sssst Apalagi Babe lagi gak ada"

Tiba-tiba terjadi peak aksi rebut-rebutan! Sikut sana-sini, Pekik sana-sini.
Maka bisa dipastikan, ini barang penting! Yup... Ternyata biskuit, sodara-sodara. Import pula, dari Arab.
Di tengah kebrutalan-berbahan-dasar-have-fun itu, hanya Mba’ Admin (dan Daryl si pendatang, tentunya) yang tidak ikut-ikutan. Wanita itu malah memperlihatkan mimik curiga. Lalu ia memperhatikan expired date biskuit, yang kemudian diikuti oleh Daryl.
Mereka serempak berteriak...:
"STOP!!! Jangan dimakan! Expired setahun yang lalu!!"

Aktiva terhenti. Beberapa orang memuntahkan biskuit langsung ke lantai karpet.
Sebagian mencoba mengoreksi tanggal bertuliskan Arab itu, tapi percuma.
Dan, seluruh tubuh Daryl gemetar...God!...
Selama bekerja di lapangan, belum pernah ia bertatap muka dengan kondisi sinting seperti ini. Yang ia tahu... Mereka semua saling jaga di sana.
...Daryl mengerang marah..
... Taik! Boss macam apa itu?

Read more!

Wednesday, August 23, 2006

NINA BOBO Part I

Saya dan Wina sedikit-banyak memiliki persamaan. Sedikit hal tentang jalan hidup kami, dan di banyak hal tentang kesepian kami. Maka malam ini jari-jari saya absen menari di atas keyboard. Saya memilih menemani Wina berteriak-teriak di depan layar kaca, berkejar-kejaran dengan lyric seorang penyanyi wanita dari... Plumb

Di belahan diri saya yang lain, ada Aura ikut menarik ujung baju saya. Gadis manis itu ditemani Mep, membawa CD karaoke. Kami berencana menelanjangi banyak hal tentang jalan hidup kami yang sama, dan sedikit hal tentang kesepian kami. Lagu itu... Real

Look at me I'm 24 // Beautiful a sight to see // Tonight
A little dress to draw the press // And I'll be leaving //All the rest behind

Well be pleased girl // If this is what you wanted // The whole world is watching you take the stage // What will you say

Aren't I lovely // And do you want me cause // I am hungry for something that will make me real // Can you see me and // Do you love me cause // I am desperately searching for something // Real

I close my eyes imagine time // Will not forget // My sacrifice // I numb the ache and decorate // My emptiness // Stand naked in the light

Well be pleased world // If this is what you wanted // This young girl is everything that you made // What will she say

The world goes home // The lights go down // My lipstick fades // Away

Selanjutnya, posting dengan heading Nina Bobo akan dengan-paksa-dan-tanpa-license menjadi semacam soundtrack Cerita Malam.
Maaf, ini bukan lanjutan dari Cerita Malam.
Namun, demi keamanaan diri saya sendiri, saya berjanji tidak sering-sering melakukan posting Nina Bobo seperti ini. Apalagi saya punya banner 'Jangan Asal Copy-Paste', yang secara langsung melumpuhkan profesi saya sebagai maling. Douh!

Untuk segala bentuk nada-irama di seluruh jagat raya... Thanks!
Saya tidak jadi bunuh diri.
... nggg.. saya masih suka ML.

Read more!

Thursday, August 17, 2006

Cerita Malam, Indonesia, dan Saya

Malam ini Aura mengantar Wina sampai ke bandara Cengkareng. Sahabat-unik Aura itu akan bersusah-susah.. eh.. bersenang-senang.. eh.. bersusah.. eh.. ah! Whatever lah! menuju Sulawesi. Yea.. dasar anak tambang, cari duit meni jauh-jauh pisan.
Anyway.. Hei, airport gak libur ya? Kaya’ si Mep aja!

Tadi siang Mep memang full time kerja di pit. Jangan tanya saya, dia mengamati apa di lubang besar itu. Lubang berbentuk kerucut terbalik itu konon yang selalu bikin masyarakat sekitar gampang murka, gara-gara si masyarakat ini kelewat narsis bisa ngeruk sendiri.. biar hasilnya juga buat sendiri, kalo’ ada apa-apa juga.. ada pengadilan sendiri. Hah!??.
Dan, malam ini Mep lagi-lagi menolak ajakan teman-temannya huru-hara.. eh.. hura-hura di pub. Salah satu fasilitas entertainment buatan perusahaan untuk para staff, syukur-syukur bisa bikin otak karyawan kreatif lagi setelah dikuras seperti pit-malang tadi.
"Aku di kamar aja boss"
Teman-teman Mep pun berlalu dan semakin menjauh.
Begitu juga bayangan pesawat Wina di udara Jakarta.

Merasa lambaian tangan sudah tak terlihat Wina, Aura berjalan menuju port damri. Ia berniat jalan-jalan sebentar di Taman Anggrek sebelum ke Gambir menuju Bandung. Kemudian, ia juga akan mem-praktek-kan nasehat guru ngaji jaman SD-nya dulu.
'Neng.. kita bangsa Indonesia teh ramah-ramahhh.. senyum atuh.. kalau berpapasan sama siapa pun'

Malam semakin malam.. Semakin Aura melemparkan senyum, semakin bulu kuduknya bergidik. Hati gadis itu jadi ciut untuk melanjutkan nasehat sang guru. Kejadian paling parah ketika ia melewati jembatan penyebrangan, jembatan yang ia rasa-rasa sudah multifungsi sebagai jembatan penyebrangan motor jikalau melewati tol.
Waktu itu ia berpapasan dengan seorang pemuda. Tidak ada yang aneh dengan si pemuda; pakaiannya bersih, kuku jempol kaki-nya juga bersih. Hanya saja, ketika ancang-ancang senyuman akan dikeluarkan, si pemuda sudah ngiler duluan melihat dada Aura. Dan, kalau Aura diberi kekuatan supranatural dapat mendengar naluri hati... Maka kalimat si pemuda-mesum itu adalah: "I’m going to rape you, big tits.. slurrppp.."
Hiiiiiiiiiii....

Mungkin yang benar-benar merasakan keramahan Indonesia ada di Wina. Ternyata untuk ke pulau berbentuk K itu saja, Wina harus transit dulu di Surabaya. Dan, karena untuk meragukan kondisi pesawat or teknologi or.. duit negara bisa bikin pusing, Wina memutuskan bahwa ini adalah ciri keramahan Indonesia, istilah rumahannya itu kira-kira:'saling bertamu is a must'.
Apa?? Kondisi geologis? Apalagi itu.. Males mikir gue! Serius amat sih lu!
Tidak berbeda dengan Daryl yang sudah 5 kali bolak-balik area posko this and that.

Daryl sang LSM kita ini pusing 5 keliling dalam arti yang sebenarnya. Setelah berbusa untuk kata 'misi' di gang seribu misi -kalau di Bandung, namanya gang seribu punten, red-. Daryl akhirnya menyerah, urusan KTP massal para pengungsi dapat selesai hari ini.
'Mungkin besok, setelah libur panjang ini', harapnya optimis.

Sedangkan saya...
Di 17 Agustus yang sialnya jatuh di hari kamis ini, diperparah dengan libur bersama pemerintah di hari jumat, kemudian sabtu-minggu libur seperti biasa, lalu ditambah lagi maulud Nabi di hari senin. Membuat...mau besok kek, lusa kek,.. there’s no happy long weekend.
Gimana nggak?! Sore hari menjelang stupid-long weekend ini, saya sudah dibanjiri e-mail ber-subject 'Happy Holiday' lengkap dengan animasi di dalamnya. Padahal saya tidak bisa punya rencana jalan-jalan ke luar kota (apalagi ke luar negri!).
Saya bukan seperti orang-orang kaya di sekitar saya yang tiba-tiba menghilang setiap hari libur tiba. Juga gak punya cowo’ yang bisa diajak ML!
Saya terlalu tolol dari mereka.
Bunuh diri gak?


____________
Happy Independence Day Indonesia!
And, happy (stupid) loooooooooooooong weekend Pals!
*Mungkin saya benar-benar gila kalau dilengkapi oleh Nyepi di hari selasa dan kenaikan Isa Almasih di hari rabu, sedangkan sejauh-jauh mata memandang selalu mentok di benda-candu bernama komputer. Sial!

Read more!

Monday, August 07, 2006

Fair or No Fair

I’m just wondering how straight path is not really straight than it used to. One of our female talents in this story, Aura, gets a bit stressful. Aura believes her career-fate start not doing well lately. She’s almost a year jobless and a little bit hopeless. With all due respect to her All-Majesty, she never complains about that. Then one night...

At coffee shop with her best friend, Wina, Aura heard about Seto (remember this guy? he always comes when you don’t need him :D, for further information read again: Tak Sampai). Since his graduated, Seto has been work for several projects at mining department. It is as his dedicated to get master scholarship while preparing to be a young collage teacher at same department. Everybody agree his work is never bad but amazing, because it’s not predicted as he was only a bachelor degree and have not too much experience like his senior. Seto could make all clients smile satisfied every finished his presentations, unbelievable.
But anything could happen...
Someone who just start his world as collage assistant, never did even one mining project, younger than Seto, and all his stupidity behavior which everybody (except big boss, of course) agree he’s nothing but too slippery, so dumb professor proud of him. But He is the one who has been given a scholarship. What???
Yea, don’t ask me. I am in Seto’s club right now.

Aura refuses what she has done at physics department will happen like Seto’s tragedy. But she has a grim smile, how come? She has never been a workaholic; she only did her job because she wanted. Never mind... I don’t want to be a teacher instead.

Both of girls are deeply enjoyable their coffee now. Silent, tired of discussion what they don’t know the answer is. Coincidental, one of tables’ coffee-bar which is not far from Aura and Wina is seated with two girls also, about twenty years or something. Those girls are discussing about fair or not fair too. And it looks like getting hot and wild. Wait... Ease dropping is not a sin rite? Check this out...

"He’s stolen my idea!", a girl has brown hair made a hard hit on the surface. Several costumers in this coffee bar glanced at her annoyingly.
"But I see the result; he makes an effort to our company. That program runs properly, but you don’t...", the other girl that wearing branded suit and older than the brown-hair girl, seems an important person at their company.
"The basis boss.. Foundation! Don’t you know how hard I though just for that stupid flow. He saw my relationship sketch and wrote it down to his code with no permission at all. And..."
"And unfortunately, he’s faster than you. Mmm.. You just have to prepare yourself for another chance to get promotion, OK. And.. Thanks for the coffee"
The boss has gone away.
The brownie guide start pouring down more coffee from pot, shivering.

Back to Aura and Wina, they’re staring at their coffee cup with no words.
Silence..

Riiiinggg...
None’s looking at cell phone, except Wina. Because of that ancient sounds.
A few minutes, Wina was getting a serious conversation. She looked like bargain with something.

"Who was that?", Aura be anxious.
"Well.. I am.. mm.. I’m being hired"
"Ya, You just published your new book, are you planning for the new one.. again?"
"No.. no.. It’s my future career. In line with my major"
"What?? You don’t finish your final dissertation yet, how come?"
"...I don’t know", Wina confuses how it should be explained.
"..mmm.. maybe I’m going to finish it well in my.. umm.. my next holiday",..
Ups.. It must be hurt to Aura.
"Oww.. wow.. You’re genius"
...
.....

Read more!

Thursday, August 03, 2006

Optimistic

There’s a new big mirror in Wina’s rent room, standing and has sparkling light border. It’s not embarrassing to be talking to your self again, because of that mirror. At least Wina thinks she’s not alone but reflection. Then Wina really enjoy and revive herself doing that silly thing at her spare time which almost spends a whole day.

How come the girl who never grumbles every single hard day she have, be so naïve. No wonder because she already has her new desire. Needed for learning new things is never ending in her blood, always changing and confusing a lot of people surrounds.
Two days ago, Wina bought a beautiful mirror. That was the begining she started preparing herself by acting like an artist. This obsession has been injected Wina but intimidated Aura. That’s why Aura abandoned whenever her best friend whit her maniac, gave a warm invitation to share a room even just for one night.

"I’ll have full of a glorious day and other people will not glance anymore, but in overwhelming way they have. Look at my palmistry", Wina push her hand to the mirror. Pretending her reflection could read it.
"And you just have to believe me, I have evidence. Want more? Look at this title..", At this time, Wina and the rest of her power, point to the title of a big yellow book which has many pages than she’s ever had (not even text book for her final dissertation), the title is; 'Idiot’s guide to Astrology'.

Well, we’re guessing now. Wina is not really fascinating about real artist. She only practices her performance to her next presentation perhaps? Or maybe she only cheers herself up. The second looks like most reliable to her.
--------

After several times she heard Aura’s complaining. Finally, Wina and her best friend are trying to discuss Wina’s crazy behavior.

"You don’t have to speak with your.. rr.. imagination friends, sist. You have me", Aura chuck Wina under the chin. And Wina can see Aura’s anxious face is funny.
"..."
"And for your information hon, you really don’t need psychiatric or doctor if you just want to share about your story.
It will make a tumor on your bill. Surely, It could be another problem", Aura’s still trying to be nice..
But Wina can’t stand anymore now. She laughs.
So that Wina shows a printed paper with a nice cover, steady in front of Aura’s face.
One second.. two second..

They are screaming!
.. and hugging..

Wina becomes a new writer. Her fiction was published by a national distributor, commented by famous editors and writers. It’s available on stores, now.
Not about ordinary mirror or imagination friends which had to punish her as a weirdo. But a particular place deep inside her mirror and imagination friends, where she built step by step her own palace and successfully write it up.
Not about palmistry or astrology which –people think- had to give her a straight path. But believe in God, those mystic things just like light entertainment for her, or maybe could be her fictional character.

Try the best you can! Don’t let people take control your freedom.
And.. Happy birthday to meeee… =D
And I love you more, honey!

Read more!

Friday, July 28, 2006

Hunger at Midnight

Mep's trying to close his eyes and imagining as his common pre activities before sleep. But those not blend as usual, is it because his dreams not instant nor terrific? He even could not catch a happy time in his happy day. Gosh, the situation of my works seem really have a great effect on my biologist time.

That was one of his tuff days. Mep, as an engineer, had to drag his technical thinking in political situation. Work phenomenal which he’d tried not to take a part as well as he could, since he realize what a real competition is. For all of that, he’d been stuck in sleeping disorder. Thanks boss!

Well, he already slept for 3 hours, after came back from work and had a meal. He was still wearing his uniform whereas he felt a sleep and no sanitation at all. His ignored that irritated -his damn work- with sleep. There were no any solution if you were stress in the middle of town site, area where you work-sleep-and work again. I wish gold or other mineral which could be plunder were not too far from a real town whit not obliterate me as a real miner, hah!

Three hours sleeping brought him to midnight. No wonder, he’s still in his night sift, 2 pm to 10 pm. Unexpected all bacterial or his tiny creatures in his stomach want to eat more. He could hear their chant seriously.
Stop thinking about meal Mep! Some people believe that everything you are suffering with is only on your brain. Failed to Mep, nothing changes, but it could be worst. What kind of experiment is that? An idiot did?

Another step to make this starving disappear: Call my beloved girl, Aura!.
Although Mep is in Nusa Tenggara, mid-area of three zones of time in Indonesia, which means his one hour ahead, it’s midnight also in Bandung. Sadly for Aura who has a tight sleeping, she always can handle her hand to catch cell phone, reflect, with or without her full soul. She is never really weak up.

"Hay honey, sorry if it is bothering you. Are you not sleepy yet?"
"..aa.."
"Great, I am not sleepy also. In fact, I have slept 3 hours but could not continue it. Thereby I am hungry. And as you know, nothing I can reach in this damn jungle"
"..uum..", Aura still murmur inside her dream.
"But you could honey. Ohh.. There are a lot of meals with varieties taste. Of course all you do just have to walk off and find a right place which open 24 hours"
"..yea..", at least it is the first time when Aura’s dream get connected with Mep.
"Honey?..", not sure about the conversation.
"Are you sleeping?..", start figure out where she is for so long that incredible chat.
"Well.. I did monolog", realize what he has done.
"..aa..", nothing changes.
"Bye honey"
Click!

And nothing you can do when you are starving, but there are no one restaurant offer their meal. Even snack! Nor cooking..ups.. Cook?? Shall we?
That’s why I hate suddenly wake up in the middle of night.

Read more!

Tuesday, May 30, 2006

Unfortunate Event

Malam di Yogya.
Daryl dan beberapa teman semasa SMU-nya duduk di beranda asrama Bogor-Yogya. Semua sibuk membicarakan gempa pagi tadi.
Tidak dengan Daryl.
Lelaki jangkung itu hanya bercumbu dengan Marlboro. Batang ke-5.

----
Pagi di Yogya.
Setelah gagal nego jalur KA dengan penuh semangat agar dapat menikmati perjalanan melewati pegunungan parahyangan dan pantai pulau Jawa bagian selatan, Daryl cukup puas berawal dan berakhir di terminal, plus mual-mual.
Bukan peyem maupun brownies dari Bandung yang ia sandang, tapi cukup bangga berbekal temu kangen geng gelo', akibat kurang intens bergelak tawa sejak lulus SMU.
Yang kemudian hari sangat ia sesalkan, karena ternyata geng gelo' lebih mengharapkan oleh-oleh.

Baru melepas lelah di gerbang depan sambil menyeruput teh berkarbonasi, Daryl merasa puyengnya belum sembuh total.
"Duh.. kemana sih anak-anak, katanya sedia service jemput-menjemput!"
Uuuh puyeng
Masih puyeng..
Tapi.. loh..loh.. Ini sih gempa!
Astaghfirullah.

Daryl mencoba bersikap tenang, jelas ia sudah di luar ruangan.
Namun dahsyatnya gelombang gempa masih dapat ia rasakan hingga ia harus berjongkok memegang tanah, dapat ia dengar dari gerbang terminal yang berayun bam-bam-bam, dan dapat ia lihat dari seorang nenek yang berlari terbawa arus luapan orang-orang berteriak.."Tsunami!"

"God.. Please..
Buat ini cuma mimpi"
, well.. Daryl panik.

Peta! Daryl ingat, setelah membaca milis dari geng gelo', sejak itu pula ia tidak sabar melahap peta pariwisata Yogya. At least ia punya foto sebagai bayangan. Tapi.. Daryl kan gak punya peta kontur Yogya. Dimana lingkaran kecil yang saat ini ia butuhkan untuk berpijak menghindari gelombang tsunami?
God...
..Think Daryl!.. Think! Lupakan Peta itu!

Masih ramai kepanikan di sini.
Semua hanya perduli keselamatan masing-masing. Believe me.. Gak ada yang namanya patriot kalau kamu sendiri gak yakin kamu akan selamat.

Saat itu pula Daryl menyaksikan.. Nenek tua yang berlari tergopoh, jatuh tersungkur, terinjak masa,.. tertimpa runtuhan,..
Terlupakan. Saat itu.

Berulang kali Daryl mencoba berbalik pandang, seakan ia mampu menolong sang nenek dengan lirikan lirih itu..
Sesal mulai menyesak dadanya.
Tapi ia semakin menjauh dari nenek malang itu, ia terbawa arus kepanikan maha dahsyat. Bahkan.. Ia tak tahu kemana tujuannya saat itu.
Daryl hanya berlari.. Lari.. Sampai teriakan tsunami berhenti mengiang di telinganya.

----
"Ryl, kamu istirahat aja lah di dalam", seorang teman menarik batang rokok yang diam terbakar di sela jari Daryl. Rupanya sudah cukup lama ia tertidur di beranda asrama.
Daryl menyapu pandangan ke semua temannya yang diam. Dan, tiba-tiba saja ia menyundut batang rokok ke asbak dengan senyum penuh arti, seperti rokok terakhir di hidupnya.
Daryl berdiri di tengah jeda.
"Pren, Gue.. extend temu kangen. LSM butuh gue"

Read more!