Wanted, Dead or A Life
Ini kisahku Ra,...
Kemarin malam, aku pulang saat tidak perlu lagi pamit. Saat sepanjang kubikal riset telah kosong ditinggal penghuninya. Saat orang-orang-terakhir menuduhku gila macro. Dan, saat aku cukup puas online di BBC dan beberapa situs Excel dan Access.
Untuk menuju kosan, aku menggunakan kopaja P-20 arah kuningan. Untuk itu aku harus berjalan sepanjang tandean sampai simpang Mampang.
Aku memang tidak pernah memilih satu dari banyak ojek yang nangkring di depan kantor. Karena itu juga, abang ojek terbiasa, sehingga tidak pernah lagi menawarkan jasanya ketika melihat aku yang keluar gerbang.
Tak lama perjalanan, P-20 berhenti tepat di depan Sentra Mulia. Saatnya aku turun.
Aku kembali melewati pangkalan ojek yang lagi-lagi telah bosan menawarkan jasanya padaku. Tapi.. tiba-tiba...
"Pssssttttttt... pssstttt... "
Sial, ngapain tuh abang ojek. Belum kenal gue apa??!!
"Heyy!"
Arah jam 9, aku melihat sesosok tinggi besar berusaha mencegat jalan. Hah?! Deni?!
Satu setengah tahun lalu, aku kenal makhluk-paling-besar-seangkatan ini di lantai 6. Waktu itu kami masih sama-sama berbaju hitam tanpa bordiran ID perusahaan. Ia punya kubikal di sayap kanan, sedangkan aku di sayap kiri. Tentu saja, karena kami beda divisi.
"Hey.. Ciee.. seragam baru nih?", sapa lelaki bersuara gak sebanding dengan penampakannya itu. Ia mencuil lengan baju seragam kantorku yang kata orang-orang sih.. keren. Alah!
"Yah, uda lama lagi Den!"
"Yaa.. gue kan uda 5 bulan-an lebih kali.. keluar. Gimana di sana?"
"Aman! Kalo lu...?", aku melirik pangkalan ojek. Si Deni menatap kesal dikira banting setir. Hehehehe...
Lalu Deni bercerita sukses karirnya.
"Gue di sini sekarang -ia menunjuk gedung di sebelah kiri kami-, MT di bagian audit. Baru nih, gue di sini... bulan lalu gue masih di gedung pusat, Mega Kuningan. Bulan depan gue ke Malaysia nih... training. Lu gimana sekarang?.. Masih.. mmm..masih segitu-gitu juga ya gajinya?"
Sial, naga-naga pertanyaan macam apa itu?
Seperti biasa, aku pasti membela mati-matian kantor ku -kalo yang nyela orang luar-.
"Gue pindah ke lantai 20, Den. Soalnya anak TV laen.., itu loh.. YANG KEBELI ama perusahaan, ikut gabung di Tandean"
Entah lah, Deni menangkap atau tidak huruf kapital di atas. Selanjutnya kami membahas hal lain. Walau masih tentang salah dua televisi swasta nasional, tapi setidaknya bukan gaji. =P
Kami berpisah di Genteng Ijo. Aku harus ke kanan, sedangkan Deni melanjutkan jalur lurus Pedurenan menuju Sudirman. Tidak ada yang spesial bertemu makhluk itu, toh aku juga tidak akrab dengannya.
Keesokan hari. Tepatnya; tadi siang saat aku dan teman-teman kantor ngobrol di jam istirahat. Aku menceritakan pertemuanku dengan Deni. Ajaibnya, selesai aku ucapkan satu kalimat saja, semua temanku menganga tak percaya.
Hey Dudes..What’s up???.. Apa hebatnya ketemu Deni???
"Sist,... si Deni itu kan dicariin sama anak-anak..", salah seorang teman berhasil membuatku tambah terheran-heran.
"Deni gak pamitan cabut dari sini, Sist! Dia menghilang begitu saja. Dia punya track record di perusahaan -gak cuma perusahaan ini saja, red-, kalau dia itu punya hutang dimana-mana! Lu gak tau?", penjelasan teman yang satu ini membuat bulu kudukku merinding. Aku seperti baru saja ditipu hantu.
Separah itu kah?
Gue ketemu sama seorang bajingan dan ketawa-ketiwi with him??
Untung gue gak ikut diperas, tapi gue sempat kemakan omong-omongan ‘tinggi’-nya.
Sial, gue bener-bener gak rela, Ra!!
Gak rela gue!
Ps: Deni adalah nama samaran, nama sebenarnya Dono. Huahahahahha..
Read more!



